Tri Hita Karana

Tri Hita Karana adalah salah satu filosofi agama Hindu yang paling mendasar, yang mencakup tiga elemen penting. Dari arti kata sendiri, Tri Hita Karana berasal dari bahasa sansekerta yaitu, Tri artinya tiga, Hita artinya kesejahteraan atau kebahagiaan, dan Karana yang artinya penyebab.

Jadi Tri Hita Karana dapat diartikan sebagai tiga penyebab kebahagian dan kesejahteraan. Ketiga komponen penyebab kebahagiaan itu antara lain :

  • Parahyangan, yaitu hubungan antara manusia dengan tuhan
  • Pawongan, yaitu hubungan antara manusia dengan sesama manusia
  • Palemahan, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

Parahyangan

Impelementasi konsep parahyangan di Bali sangat kental sekali. Mulai dari tingkat rumah tangga ada konsep Pamerajan Alit, di kamar atau di tempat usaha biasanya dipasang Pelangkiran.

pelangkiran

Di tingkat Desa, ada Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa & Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem & Pura Prajapati).  Selain itu juga ada Pura panyungsungan menurut profesi dikenal dengan Pura Swagina.

Naik ke tingkat yang lebih atas, ada dikenal dengan Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan. Sebegitu banyaknya Pura-Pura di Bali tidak terlepas dari keyakinan masyarakat Hindu Bali untuk memuja kebesaran tuhannya lewat tempat suci dan penyelenggaraan upacara yadnya (Dewa Yadnya).

1524712_10152106142404545_1362129119_n

Hendaknya dengan konsep parahyangan ini, masyarakat Bali tidak hanya terfokus pada banyaknya Pura-Pura dan yadnya yang diselenggarakan, tetapi juga harus ada sradha bakti yang diimplementasikan lewat kualitas manusianya itu sendiri, dimana mengamalkan ajaran-ajaran ketuhanan lewat Tri Kaya Parisudha.

 

Pawongan

Sebagai suatu masyarakat dan mahluk sosial, umat Hindu Bali tentu tidak terlepas dari interaksi sosial antara satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, di Bali dari dulu sudah ada lembaga-lembaga atau organisasi yang dibentuk untuk mengatur jalannya peradaban dan kehidupan masyarakat Bali itu sendiri. Ini dibuktikan dengan adanya Banjar Pakraman dan Desa Pakraman.

banjar-batan-nyuh_20150602_120054

Banjar dan Desa Pakraman memegang peranan penting dan menjadi benteng terdepan dalam pelestarian peradaban Hindu Bali sampai dengan saat ini. Hal yang paling terpenting, dalam implementasi konsep pawongan di masa kini adalah, agar jangan sampai konsep Pawongan ini membuat masyarakat Hindu Bali menjadi terbelakang, justru seharusnya bisa berpikir ke depan terutama dalam menghadapi tantangan jaman di masa datang.

Banjar dan Desa Pekraman hendaknya jangan menjadi penghambat krama-nya dalam mengembangkan diri untuk kemajuan. Karena bagaimanapun jika krama (anggota) banjar tersebut sudah maju secara ekonomi dan secara intelektual, maka akan memberikan dampak positif bagi karma-krama lainnya di lingkungan banjar dan desa pakraman tersebut.

RWyTpgEBQS

Selain itu, konsep Pawongan bisa dikatakan berhasil, jika konflik di Banjar dan Desa Pakraman serta konflik antar Banjar dan antar Desa Pakraman hampir tidak ada (mendekati angka 0%). Setiap umat Hindu Bali wajib memahami konsep Pawongan secara mendalam, bukan hanya secara kelembagaan. Agar tercipta masyarakat yang menyama braya (masrayakat yang menjunjung tinggi arti persaudaraan), saling asah (saling menghargai), asih (saling mengasihi) , asuh (saling membingbing), sagilik saguluk, salung-lung, sabayantaka (dengan semangat dan tekad yang bulat, selalu siap menghadapi kondisi baik atau buruk), paras-paros sarpanaya (baik dan buruk dirasakan secara bersama).

Palemahan

Konsep palemahan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yaitu keterikatan antara masyarakat Hindu Bali dengan alam dan lingkungannya. Ini dibuktikan dengan adanya hari raya Tumpek Wariga atau Tumpek Pengatag sebagai hari pernghormatan untuk tumbuh-tumbuhan, Tumpek Uye atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Kandang sebagai hari penghormatan kepada para binatang dan hewan piaraan, tumpek krulut sebagai hari penghormatan kepada unsur-unsur kesenian dan keindahan.

poleng

Selain itu juga, masyarakat Hindu Bali percaya bahwa, selain manusia, hewan, dan tumbuhan, masih ada mahluk lain yang tak terlihat kasat mata yang juga hidup diantara mereka. Maka dari itu masyarakat Hindu Bali menyelenggarakan upacara Bhuta Yadnya, yang bertujuan untuk mengakui dan mengormati keberadan mahluk-mahluk yang tidak terlihat kasat mata tersebut. Ini bertujuan agar antara manusia dan mahluk-mahluk tersebut bisa hidup secara berdampingan.

tawur

Sebagai masyarakat Hindu Bali, hendaknya konsep Palemahan tidak hanya diaplikasikan dalam hari-hari suci dan ritual seperti yang telah dijelaskan di atas, namun juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan tidak membuang sampah dan limbah sembarangan, mengurangi kadar polusi, mendukung program dan kegiatan yang bertujuan rehabilitasi lingkungan.

Kesimpulannya, konsep Tri Hita Karana tidak dapat dipisahkan dengan konsep Tri Kaya Parisudha. Dua konsep filosofi yang melandasi kehidupan masyarakat Hindu Bali ini sangat penting diaplikasikan. Apa yang diwariskan leluhur kita lewat filosofi-filosofi adi luhung ini hendaknya dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan mengapilkasikannya di segala aspek kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *