Sugihan Bali Dan Sugihan Jawa, Apa Bedanya?

Menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, para semeton mungkin pernah mengobrol tentang bagaimana persiapan menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. Ada mungkin salah satu topik pembicaraan dan pertanyaan diantara para semeton yaitu mengenai hari Sugihan. Pertanyaannya sederhana, “Kamu Sugihan apa?” Mungkin diantara para semeton menjawabnya dengan jawaban,”Saya Sugihan Jawa” atau “Saya Sugihan Bali”.

Diantara pembicaraan tersebut pasti akan mengarah dan menghubung-hubungkannya dengan sejarah, dimana orang yang melangsungkan Sugihan Jawa, “Kone” atau katanya berasal dari Jawa karena kemungkinan leluhurnya dulu berasal dari Jawa. Ada pula yang menambahkan, “Kone” atau katanya juga, leluhurnya dulu berasal dari Majapahit, dimana pada waktu Mahapatih Gajah Mada melakukan ekspansi mempersatukan Nusantara, banyak para Arya, prajurit, dan rakyat Majapahit datang dan bermigrasi dari Jawa ke Bali.

Itu baru Sugihan Jawa, bagi para semeton Hindu yang merayakan Sugihan Bali, mereka akan menjawab bahwa leluhur mereka terdahulu memang “ASLI Bali”. Karena merasa bahwa clan atau sorohnya berasal dari “Bali Mula” atau “Bali Aga”.

Terlepas semua cerita di atas, berdasarkan sastra Lontar Sunarigama telah dijelaskan tentang apa itu sugihan Jawa dan sugihan Bali, yaitu :

Sungsang, wrespati wage ngaran parerebwan, sugyan jawa kajar ing loka, katwinya sugyan jawa ta ngaran, apan pakretin bhatara kabeh arerebon ring sanggar mwang ring parhyangan, dulurin pangraratan, pangresikan ring bhatara, saha puspa wangi. Kunang wwang wruh ing tatwa jnana, pasang yoga, sang wiku anggarga puja, apan  bhatara tumurun mareng madyapada, milu sang dewa pitara, amukti banten anerus tekeng galungan. Pakreti nikang wwang, sasayut mwang tutwan, pangarad kasukan ngaranya. Sukra kliwon, sugyan bali, sugyan ing manusa loka, paknanya pamretistan ing raga tawulan, kewala sira apeningan anadaha tirta panglukatan, pabresihan, ring sang pandhita.

Artinya:

Pada Wuku Sungsang, Kamis Wage dinamakan Parerebuan, atau dikenal dengan sebutan Sugihan Jawa oleh masyarakat umum. Disebut Sugihan Jawa karena merupakan hari penyucian bagi para Ida Bhatara untuk melakukan rerebu/bertemu di Sanggar dan di Parahyangan, dengan menggunakan pangraratan dan pangresikan kepada para Bhatara serta kembang dan bunga wangi. Jika ada orang yang menjalankan tattwa jnana (mendalami spiritual dan keagamaan), hendaknya melaksanakan yoga/semadi, jika dia seorang pandita hendaknya melakukan pemujaan, karena Ida Bhatara turun ke dunia diiringi para dewa pitara (leluhur), untuk amukti sari (menerima persembahan) sampai pada hari raya Galungan nanti. Adapun persembahan sebagai wujud bakti umat manusia, terdiri  dari banten sesayut dan tutwan atau disebut juga pangarad kasukan (penarik kebahagiaan). Pada hari Jumat Kliwonnya (wuku Sungsang) dinamakan Sugihan Bali, sugihan bagi umat manusia. Maknanya adalah hari penyucian diri manusia lahir batin, dengan cara mengheningkan pikiran, memohon air suci penglukatan dan pembersihan diri kepada sang pandita.

melukat1

Foto by : Gde Muriarka

Jika kita mengacu pada penjelasan Lontar Sunarigama di atas, sangat jelas sekali diterangkan bahwa pada hari Sugihan Jawa hendaknya kita melaksanakan persembahan kepada Ida Bhatara yang bersthana di Merajan, Pura dan Parahyangan lainnya, karena pada hari itu para Ida Bhatara turun ke dunia diiringi para dewa pitara (leluhur) untuk menyaksikan sembah bakti umatnya ke pada beliau semua. Tapi ini bukan berarti para Ida Bhatara hanya turun pada hari sugian Jawa saja. Tetap kita mengacu kepada sifat ketuhanan bahwa Tuhan ada dimana-mana dan meresapi segala ciptaannya, (Wyapi Wyapaka Nirwikara).

Kemudian jenis bebantenannya pun sudah dijelaskan disana, yaitu banten pangresikan (Pabyakaonan, Durmanggala, Prayascita, Pangulapan), Kemudian bisa ditingkatkan dengan banten pasucian, wangi-wangian, tigasan, toya anyar, sesayut, tutwan dan sodan/rayunan.  Untuk rangkaian bebantenan, silakan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing (sakasidan).

prayascita

Makna terpenting yang bisa diambil dari Sugihan Jawa yaitu, kita sebagai manusia bukanlah menyamakan Ida Bhatara seperti manusia, tetapi konsep agama Hindu di Bali mengajarkan kepada kita bagaimana kita sebagai manusia menghaturkan persembahan layaknya kita memperlakukan diri kita sendiri.

Adapun makna dari bebantenan di yang disebutkan di atas antara lain :

  • Banten pangresikan sebagai simbol pembersihan alam bawah (bhur) dengan pabyakaonan, alam tengah (bwah) dengan durmanggala, dan alam atas (swah) dengan prayascita.
  • Sedangkan banten pangulapan bertujuan untuk mengembalikan unsur-unsur makrokosmos dari Ida Bhatara agar bisa manunggal dan bersatu kembali untuk disthanakan di Parahyangan masing-masing.
  • Toya Anyar sebagai simbol umat manusia menghaturkan air pembersihan kepada Ida Bhatara.
  • Kemudian ada banten pasucian dan bunga/puspa sebagai simbol Ida Bhatara masuci dan dihias, layaknya manusia merias dirinya sendiri.
  • Tigasan sebagai simbol busana Ida Bhatara.
  • Sesayut dan Tutwan sebagai symbol sthna dari Ista Dewata untuk memohon kerahayuan.

Setelah Ida Bhatara dihaturkan semua banten di atas, baru dilanjutkan dengan pemujaan dan persembahyangan. Jika anda seorang penekun spiritual, para Pemangku maupun Pandita hendaknya melakukan puja mantra, brata, yoga, dan semadi,

Kemudian keesokan harinya pada hari sugian Bali hendaknya kita melakukan upacara pembersihan diri, seperti melukat di tempat suci atau Pura-Pura yang difungsikan sebagai tempat panglukatan. Selain itu kita juga bisa meminta pengelukatan kepada para Pemangku maupun kepada para Pandita.

melukata

Kesimpulannya Sugihan Jawa dan Sugihan Bali merupakan rangkaian hari raya dalam menyambut hari raya Galungan dan Kuningan yang bertujuan untuk membersihan dan menyucikan buana agung (alam semesta) dan buana alit (manusia itu sendiri) secara sekala dan niskala. Kedua ritual ini penting dilakukan agar tercipta keseimbangan antara buana agung dan buana alit. Jika telah tercipta keseimbangan antara kedua unsur ini, diharapkan pada tidak ada lagi godaan dalam menyambut hari raya Galungan dan Kuningan nanti, karena dijelaskan juga dalam lontar Sunarigama bahwa pada hari minggu paing wuku dungulan Sang Kala Tiga akan turun ke dunia dalam wujud Bhuta Kala yang dikenal sebagai Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *